Gaya Anak Muda Semakin Aneh
Di tahun 2016 banyak muncul video-video yang menghebohkan dunia maya hingga menjadi bahan pembicaraan dari mulut ke mulut. Ada yang dari mancanegara hingga dari dalam negeri.
Dari gaya meniru tingkah laku patung seperti menunggu kepastian yang tak kunjung datang, sekelompok anak muda yang seolah-olah berada di dalam bus yang ngebut lengkap dengan penumpang, sopir, dan penjual makanan di dalam bus yang meniru gaya supir bus yang ngebut bagaikan aktor film “ Fast and Farious “ atau atlet dakar yang profesional, dan yang baru-baru ini muncul adalah video memainkan klakson bus dengan sebutan “ Om Telolet Om ”.
Berawal dari sekelompok anak muda yang tak tahu harus mengapa, kenapa, bagaimana, dan harus apa untuk mengisi kegiatan waktu liburan. Mereka mendapatkan inspirasi dari dari sebuah kendaraan persegi panjang, ukurannya besar dan biasanya tertulis lengkap ada AC, WiFi, toilet, TV, dan lain-lain yang orang menyebutnya dengan nama bis tetapi tulisannya bus. Kendaraan tersebut diburu oleh banyak anak muda karena memiliki bunyi klason yang unik.
Hal ini tak jauh beda dengan seorang anak SMA yang berbadan kurus, kulit sawo matang, rambut ikal sedikit, dan tidak begitu terkenal di kelurahannya yang mencoba meniru video telolet dari youtube yang sudah heboh agar namanya dapat disebut-sebut oleh orang-orang sekelurahannya. Ia adalah Didin anak dari Pak Lurah, ibunya penjual gorengan terkenal dikampungnya, dan adiknya yang polos.
“Dek, nanti beritahu ibu aku mau membuat sesuatu yang tak lazim di kampung ini sama temen-temenku. Aku mau cari telolet biar jadi sedikit terkenal kayak yang di youtube,“ kata Didin dengan suara pelan.
“Maksudnya tak lazim itu bagusnya ya Mas?“ tanya Sri dengan lugunya.
“Pokoke ekstrim banget!“ jawab Didin.
“Sri boleh ikut juga nggak Mas?“ tanya Sri
“Jangan nanti dimarahin ibu kamukan masih kecil belum bisa yang kayak gini,“ jawab Didin dengan sok tahu.
“Yowis, nanti aku bawain ekstrim rasa mangga ya Mas?” minta Sri dengan lugu.
“Kok bisa minta ekstrim to Sri?“ tanya Didin dengan bingung.
“Ekstrim itu kan enak dimakan to Mas?“ tanya Sri dengan lugu. “ Itu eskrim nduk” jawab Didin dengan gemes.
“ O, udah ganti nama to Mas?” tanya Sri yang masih bingung.
Kemudian Didin langsung pergi ke rumah temannya untuk ia ajak pergi ke tepi pinggir jalan raya di depan gang kampungnya.
Tak berapa lama Ibu pulang ke rumah hanya mengambil tepung untuk menggoreng gorengan dan ia hanya melihat Sri seorang. Kemudian ia kembali ke warungnya. Hingga sore datang Ibu kembali dari berjualan pulang ke rumah. “Sri, Didin ke mana, sudah sejak pagi tadi aku tidak melihat wajahnya?” tanya Bu Janah.
“Mas Didin pergi bersama teman-temannya ke pinggir jalan raya. Katanya sih mau Telolet, Bu,” jawab Sri.
“O alah, Din, Telolet ki panganan opo. Lha, mbok baca sholawat di rumah bisa untuk sangu akhirat,” kata Bu Janah sedikit bingung.
“Yowis, sana Sri cari Mas Didin suruh pulang udah sore bentar lagi maghrib,” perintah Bu Janah kepada Sri.
“Iya Bu, aku juga penasaran telolet ki opo?” heran Sri.
Sri pun pergi ke gang depan untuk mencari kakaknya, tetapi sampai di sana sudah banyak orang dan anak muda dari kampung sebelah.
“Mas, mau tanya lihat mas Didin nggak?” tanya Sri kepada salah seorang di situ.
“Itu loh Dek paling depan sendiri yang foto sama bus,” jawab pemuda itu.
“Loh, kok Mas Didin sama temen-temennya pada minta foto sama bus? Emang di dalamnya ada artisnya po? “ heran Sri.
Sri pun mendekat ke kerumunan orang-orang yang melihat tingkah laku Didin dan teman-temannya. Tapi Sri masih bingung melihat tingkah laku Masnya.
“Ayo pada foto di depan bus ikut aku berburu telolet” ajak Didin.
Didin dan teman-temannya berfoto dengan bus yang mereka berhentikan untuk berfoto. Setelah berfoto mereka serentak berteriak “Om Telolet Om!!!” teriak Didin dan teman-temannya. Seketika itu sopir bus itu membunyikan klaksonnya yang bunyinya “teloleteloletelolet” bunyi klakson bus. Dan seketika orang yang menonton tertawa gembira melihat tingkahnya sopir bus yang diminta membunyikan klasonnya.
“Ayo ikut Didin dan teman-temannya berburu telolet. Kayaknya asik kalau ikutan,” kata salah seorang yang menonton.
“Ooo, jadi yang dimaksud telolet itu kayak gini to? Kok lucunya gara-gara klaskson bus semuanya pada bahagia,” kata Sri dengan heran”
“Dari pada Sri di sini lebih baik Sri ikut Mas Didin aja berburu telolet. Nanti biar Ibu yang ke sini cari Mas Didin suruh pulang,” kata Sri.
Semuanya pun asik berburu telolet bersama Didin, sehingga gang depang kampung jadi ramai banyak orang. Di rumah Ibu heran dengan Didin dan Sri yang belum balik dari main.
“Kok, belum pada balik ke rumah ini? Aku jadi penasaran. Tak ke sana aja nemui mereka berdua biar mereka ku tarik pipinya!” kata Ibu dengan agak marah.
Sesampainya di sana “Loh, kok ramai-ramai ono opo?” tanya Ibu ke tetangga yang ikut menonton.
“Itu, anak Ibu si Didin jadi terkenal sampai anak-anak muda kampung sebelah ikut juga,” jawab tetangga Bu Janah.
“Kok bisa anakku jadi terkenal ki piye?” tanya Ibu.
“Gara-gara Didin cari telololet, anak itu jadi di tonton dan di tiru banyak orang,” jawab tetangga Bu Janah.
“O alah, jadi anakku udah jadi artis telolet terkenal to di kampung ini. Ibu bangga le sama kamu,” kata Ibu dengan terharu.
Ibu pun kembali ke rumah dengan bangga tidak jadi memamarahi kedua anaknya. Kini anaknya jadi artis telolet di kampungnya. Keinginan Didin jadi terkenal di kampungnya pun terwujud berkat telolet bahkan sampai ke kampung sebelah dan ditiru banyak orang di sekitar kampung. Terimakasih telolet!
Tulisan kurang besar. Selain itu, penggunaan alinea perlu diperhatikan. Judul perlu diubah yang lebih ngeh.
BalasHapus